6 Alasan Saya Memilih Resign Tanpa Mencari Pekerjaan Baru Terlebih Dahulu






tipsbudy.id - Banyak yang berfikir kalau keputusan ini sangat merugikan saya pribadi, Kesulitan untuk berfikir membuat saya harus bisa menentukan mana yang harus saya dahulukan terlebih dahulu
Keputusan saya ini sering dinilai gegabah, sembrono, dan terkadang juga dibilang sombong. Karena banyak yang berfikir Zaman sekarang cari kerja susah. Tapi, risiko itu juga bukannya gak pernah saya pikirkan.saya sudah cukup banyak memikirkannya

1. Melepaskan terlebih dahulu beban saat ini membuat saya lebih fokus untuk menentukan rencana di masa depan nanti

Di sisi lain, beban pekerjaan yang semakin memberatkan juga menambah tingkat kelelahan. Saya semakin bingung dengan apa yang bisa dilakukan. Karenanya, terkadang saya perlu melepaskan beban-beban itu dulu untuk bisa memikirkan apa sih yang sebenarnya saya mau?
Ada masanya saya bingung dengan hidup saya sendiri. Rasa stuck-nya mulai membuat frustrasi. Apa yang dikerjakan bertahun-tahun mendadak tidak menarik lagi. Rasanya ingin melakukan sesuatu, tapi bingung apa atau yang mana dulu.

2. Mendapatkan waktu lebih fleksibel untuk mempersiapkan diri. Biar gak capek kucing kucingan di tempat kerja lama

Ketika saya ingin resifn, otomatis saya akan mulai mencari-cari lowongan lainnya. Dan sekarang semakin gampang dengan adanya jobstreet, linkedin, dan platform-platform pencarian kerja lainnya. Gak harus menunggu jobfair dulu

Tapi, seringkali surat panggilan datang di waktu yang sulit. Saya harus kucing-kucingan dengan kantor yang sekarang. Mengarang berbagai alasan, mulai acara keluarga sampai sakit hanya untuk bisa interview. Yang terburuk, terkadang harus melewatkan panggilan interview karena pekerjaan benar-benar tidak bisa ditinggal.

3. Menunggu ada yang baru akan membuat saya malas-malasan mencari peluang. Toh, yang sekarang masih bisa ditahan-tahan

Harus diakui, saya ini seorang pemalas. Saya punya segudang rencana positif yang jika saja diwujudkan, mungkin saya jadi orang yang cukup keren sekarang. Sayangnya, rencana itu seringnya hanya berakhir jadi rencana karena ditimpa dengan alasan “Nanti aja deh” atau “Besok aja deh”.

Begitu juga soal pekerjaan. Ketika saya ingin mencoba peluang baru, saya perlu memaksa diri sendiri untuk itu. Kalau tidak dipaksa, endingnya sama. Tidak jadi-jadi, karena saya masih punya backup. Resign dulu dari pekerjaan lama membuat saya “terpaksa” harus gesit mencari peluang dan mengejarnya. Saya juga tidak mau nganggur terlalu lama ‘kan?

4. Motivasi dalam bekerja sangat mempengaruhi performa. Saya juga tak ingin bertahan dengan kinerja yang di bawah standar


Apa yang terjadi di pikiran sangat berpengaruh dengan kinerja keseharian. Ketika saya tidak lagi merasa nyaman dengan pekerjaan tersebut, motivasi saya pun ikut menurun. Akibatnya, performa pun angin-anginan, dan hasilnya tak bisa maksimal. Hal ini tentunya bukan hal yang bagus untuk karier saya ke depan. Karenanya, ketika saya merasa sudah stuck dan tak bisa lagi berkembang ataupun sudah mentok tanpa ada peningkatan performa, saya sadar diri. Sudah saatnya saya melepaskan. Mungkin posisi ini memang bukan posisi yang tepat untuk saya isi.

5. Ketika tekanan pekerjaan tak bisa lagi saya tanggungkan, ada diri sendiri yang patut raya pikirkan. Keputusan ini adalah wujud rasa sayang

Saya mengerti bila setiap pekerjaan selalu memiliki risiko. Rasa jenuh, bosan, dan lelah itu pasti ada, apa pun pekerjaannya. Namun, terkadang tekanan pekerjaan itu terlampau besar. Entah karena tak cocok pekerjaannya, beban kerja yang memang terlalu berat, gagal beradaptasi dengan lingkungan yang tak bisa ditoleransi. Semua itu menjadi penyebab lelah yang berkepanjangan, yang tidak melulu soal fisik.

Di satu saya juga gelut dengan diri sendiri. Saya berusaha keras untuk bertahan dengan menceritakan hal-hal yang baik untuk diri sendiri. Namun, terkadang kelelahan mental itu tak bisa dibohongi. Bila terus bertahan, kesehatan mental saya bisa dipertaruhkan. Karenanya, memaksa resign meski belum mendapatkan pengganti adalah wujud rasa sayang saya terhadap diri sendiri ketika tekanannya tak bisa lagi saya toleransi.

6. Ketidaknyamanan yang terjadi memaksa saya untuk mencari solusi lain. Bertahan hidup bisa dengan berbagai cara


Lalu apa yang akan saya lakukan setelah resign nanti? Pertanyaan itu juga sudah saya pikirkan ribuan kali. Saya tahu bahwa resign sekarang akan menjadikan saya sebagai pengangguran yang tak bergaji tetap. Saya mengerti hal itu, dan saya juga sudah memikirkan segudang rencana. Mulai dari mempersiapkan diri untuk menjadi freelancer. Atau bisa juga mulai membuka olshop atau jastip.

Kemungkinan terburuk itu sudah saya pikirkan, dan itu juga yang memaksa otak saya berputar mencari solusi. Selain itu, kemungkinan terburuk itu juga mengajarkan saya berbagai hal. Salah satunya adalah menghemat keuangan sehingga saya tetap bisa hidup dengan sisa tabungan. Dulu saya selalu membuat excuse “besok aja deh” saat ingin berhemat. Sekarang saya HARUS berhemat, kalau tidak mau sekarat.

Untuk resign atau bertahan di suatu pekerjaan memang butuh pertimbangan matang-matang. Tak bisa gegabah ataupun memutuskan berdasarkan emosi semata, karena biasanya itu akan disesalkan. Resign sebelum memiliki pekerjaan cadangan juga bukan hal yang sederhana. Ada sederet konsekuensi yang menunggu di belakangnya. Namun, bagi saya, hidup itu perkara pilihan. Terkadang kita harus merelakan sesuatu untuk mendapatkan yang lain. Jadi, keputusan sulit yang saya ambil ini bukan tanpa pertimbangan dan segegabah yang orang-orang pikirkan

budy hidup itu seperti benih kacang di dalam kantong plastik, punya 2 pilihan , tetap dikantong plastik tanpa perubahan atau keluar dari kantong plastik agar dapat tumbuh ditanah dan menghasilkan banyak benih kacang lagi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel