image by islamkafah.com

Tips Budy - Hallo sobat muslim,
Dalam shalat, ibarat seseorang akan menghadap presiden, ia harus mengikuti protokoler yang harus dipenuhi, apalagi shalat sebagai ritual menghadap Tuhan sang Pencipta. Ada berbagai aturan-aturan yang sudah ditentukan yang wajib anda penuhi mulai bersih dari hadats kecil, hadats besar, suci dari najis, menutup aurat dan lain sebagainya.

Selain aturan baku di atas, ada pula aturan nonbaku yang masuk kategori etika dan estetika. Etika ini bisa bersumber dari mana saja. Aturan bakunya seorang laki-laki melaksanakan shalat adalah dengan menutup aurat antara pusar dan lutut. Namun apa kemudian menjadi pantas jika ada orang shalat hanya pakai celana kolor saja tanpa memakai baju?

Shalat merupakan tonggak pencegahan dari perkara aneka perilaku keburukan. Allah SWT berfirman:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ                             
Artinya, “Tunaikan shalat. Sesungguhnya shalat itu bisa mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan kemunkaran,” (Surat Al-Ankabut ayat 45).


Seperti kita ketahui, dalam shalat, selain aturan baku yang wajib dilaksakan seperti membaca Al-Fatihah, ruku’, sujud dan lain sebagainya, ada aturan-aturan tambahan yang sifatnya sunnah. Sebagian ulama menganggap sunnah antesis daripada makruh.

Jika ada kesunnahan yang disarankan untuk dilaksanakan, maka meninggalkannya mendapat status makruh. Namun pendapat yang kuat wajahnya menyatakan tidak demikian. Meninggalkan sunnah tidak otomatis makruh kecuali ada dalil atau indikasi-indikasi khusus.

Artinya, “Saya (Imam Nawawi) menyatakan dimakruhkan, maksudnya bagi orang shalat baik laki-laki maupun yang lainnya meninggalkan sesuatu dari sunnahnya shalat. Namun universalitas adagium ini masih ada pembahasan. Menurut pandangan paling kuat, hukum makruh hanya berlaku jika ada indikasi larangan atau bertentangan dengan wajib itu menandakan kalau ditinggal bisa makruh sebagaimana dijelaskan para ulama pada bab mandi dan lainnya,” (Lihat Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj, [tanpa keterangan penerbit: 1983], juz II, halaman 161).

Lalu Bagaimana dengan Penutup Kepala? 

Menutup kepala bagi orang laki-laki yang sedang menjalankan shalat bukanlah sebuah kewajiban. Sebab memang yang diwajibkan dalam shalat untuk ditutup hanya mulai pusar sampai dengan lutut.

Meski tidak wajib, menutup kepala merupakan sebuah etika khusus yang sunnah untuk dilakukan. Rasulullah SAW itu hingga aktivitas ke toilet dan bersenggama dengan istri pun memakai tutup kepala, apalagi shalat.
Sekali lagi, menutup kepala bukanlah sebuah kewajiban, ia hanya pada aturan etik-estetik saja. Contoh, seorang perawi hadits yang ketahuan berjalan di jalanan dengan kepala terbuka atau kaki tanpa sandal itu bisa menurunkan kehormatan (muruah) mereka yang berakibat pada nilai-nilai hadits yang ia sampaikan.

Oleh karena itu, membiarkan kepala tetap terbuka tanpa penutup bagi laki-laki hukumnya makruh sebagaimana dikatakan dalam Kitab Fathul Mu’in dan syarahnya I’anatuth Thalibin.


 “Membuka kepala dan bahu, maksudnya dimakruhkan membuka kepala dan bahu karena sunnahnya adalah berpakaian bagus (etik dan estetik) dalam shalat dengan cara menutup kepala dan badan,” (Lihat Syekh Abu Bakar Al-Bakri, I’anatuth Thâlibin, [Dârul Fikr, Beirut: 1997), juz I, halaman 226).

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa membuka kepala pada saat shalat hukumnya makruh. Wallahu a’lam.

jadi teman teman sekalian kita harus rapi dan menjaga etika ketika solat, karena diwaktu itu juga kita berhadapan langsung dengan allah SWT dan kiranya kita senantiasa rapi dan bersih karena ada etika dan adab yang harus kita jaga.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.


sumber : http://www.nu.or.id